Tag

, , ,

Setono Gedong adalah sebuah komplek bangunan seluas 3 hektar yang berlokasi di antara pusat perbelanjaan, berada di area Masjid Aulia yang beralamat di Jl Doho Kota Kediri, tepatnya di seberang Stasiun KA Kediri.. Terdiri dari sebuah masjid, pendopo, serta areal pemakaman dimana bersemayam beberapa tokoh penting seperti Sunan Amangkurat Mas III.  Diantara makam para tokoh itu, yang menjadi maskot utama adalah makam Mbah Wasil.

Berbicara tenang  Situs Setono Gedong tidak akan terlepas dari legenda Sulaiman Al-Wasil Syamsudin atau Mbah Wasil. Ada beberapa teori mengenai latar belakang pendirian Situs Setono Gedong jika ditinjau dari legenda Mbah Wasil.

Versi I

Mbah Wasil dipercaya adalah seorang arab dari Mekah. Alkisah beliau akan dijadikan pemimpin negara setempat, tetapi beliau menolaknya, sebab ia lebih cinta pada Allah SWT. Kemudian beliau mengasingkan diri atau hijrah ke Indonesia, tepatnya di Desa Setono Gedong. Dalam kisahnya, Mbah Wasil hendak membangun masjid dalam waktu satu malam, tetapi disaat dini hari terdengar suara wanita yang memukul lesung menumbuk padi. Rencana Mbah Wasil pun urung terselesaikan, dan hasilnya hanyalah pondasi yang sampai saat ini masih ada.

Versi II

Mbah Wasil, sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa ahli dimungkinkan adalah seorang ulama besar dari Persia yang datang ke Kediri untuk membahas kitab Musyarar atas undangan dari Raja Jayabaya. Tokoh inilah yang kemudian berupaya menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di Kediri. Sebagai seorang ulama besar atau tokoh penting yang berjasa mengembangkan Islam di Kediri maka wajar jika setelah meninggal beliau mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat. Kompleks bangunan makam Setono Gedong merupakan salah satu wujud penghormatan yang diberikan oleh masyarakat terhadap jasa beliau dalam mengembangkan agama Islam di Kediri

Versi III

Mbah Wasil adalah tokoh penyebar agama Islam di Kediri yang hidup sejaman dengan para Wali Songo. Tokoh ini dimungkinkan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan seorang wali, yaitu Sunan Drajat yang merupakan putra kedua dari Sunan Ampel. Pendapat ini didasari oleh dua indikasi, pertama adanya kesamaan arsitektur bangunan dan ornamentasi yang terdapat di kompleks bangunan Setono Gedong dengan kompleks bangunan makam Sunan Drajad di Lamongan. Kedua, Istri Sunan Drajat adalah Retno Ayu Condro Sekar, seorang Putri Adipati Kediri yang bernama Suryo Adilogo

Namun demikian, tidak ada keterangan jelas kapan dan dimana beliau meninggal dunia. Pada batu nisannya hanya bertuliskan kaligrafi kalimat syahadat yang terbingkai dalam gambar matahari pijar. Riwayat asal-usul keluarganya serta waktu pasti kedatangannya di Kediri juga terdapat beberapa versi oleh para ahli. Hal tersebut tak mengurangi nama harum perjuangan mbah Wasil.

Kembali pada kisah Mbah Wasil, ketika beliau hendak membangun masjid dalam waktu satu malam, tetapi disaat dini hari terdengar suara wanita yang memukul lesung menumbuk padi.  Dan rencana Mbah wasil urung terselesaikan. Hasilnya adalah hanya pondasi

yang sampai saat ini masih ada. Kurang lebih tahun 1897 masjid yang belum jadi itu pernah dijadikan tempat ibadah penduduk setempat. Dan pada tahun 1967 oleh takmir, depannya masjid dibangun masjid yang diberi nama Masjid Aulia’ Setono Gedong.  Konon saat penggalian pondasi masjid Aulia’ ditemukan menara berukir relief  Garuda, dan ternyata gambar tersebut akhirya menjadi lambang negara kita.

Meski hingga  hingga kini latar belakang sejarah mengenai Situs Setono Gedong masih menjadi perdebatan. Terlepas dari perdebatan-perdebatan tersebut, Situs Setono Gedong adalah saksi perkembangan sejarah di kota Kediri yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

Resources:  http://travel.kompas.com http://travellers2009.wordpress.com