Tag

Arca Totok Kerot merupakan prasasti zaman Raja Sri Aji di Lodaya, Kerajaan Pamenang.  Legenda setempat menceritakan bahwa dulu ada seorang putri cantik dari Blitar. Sang putri, waktu itu datang ke Pamenang untuk melamar Joyoboyo, yang sangat tersohor kedigdayaan nya. Malang bagi sang putri, karena Joyoboyo menolak lamaran itu. Arca setinggi 3 meter ini terletak di Desa Bulupasar Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, dengan jarak lebih kurang 7 Km dari kota, kalau sekarang sekitar 2 km ke arah utara dari Simpang Lima Gumul.

Versi lain menyebutkan bahwa Arca ini diduga merupakan peninggalan dari Kerajaan Kediri atau Panjalu (1042-1222) yang beribukota di Daha (baca: Doho), atau sekitar Kota Kediri sekarang ini. Dugaan ini berasal dari adanya lambang Kediri berupa ornamen tengkorak di atas bulan sabit pada dahi atas Arca Totok Kerot, yang disebut Candrakapala. Arca Totok Kerot ini memakai ornamen tengkorak pada lengan, anting kiri kanan, dahi dan juga untaian kalung di lehernya. Kepalan tangan kanan Arca Totok Kerot ini terlihat telah hancur tidak berbentuk. Arca Totok Kerot ini sebelumnya terbenam di bawah tanah ketika ditemukan penduduk pada 1981, dan baru sepenuhnya diangkat pada 2003.

Arca Totok Kerot yang terbuat dari batu andesit utuh ini kakinya terlihat dihiasi dengan lilitan ular bermahkota di kepalanya. Rambut gimbal Arca Totok Kerot, yang memang merupakan sebuah arca raseksi (raksasa perempuan).

Masyarakat Kediri juga memiliki legenda tersendiri tentang Arca Totok Kerot. Totok Kerot terbenam separuh badan karena arca tersebut sangat berat, hingga tanah dibawah arca tidak kuat menopang berat arca. Kenyataannya Totok Kerot bukan tenggelam karena  berat , melainkan penggalian yang tidak dilanjutkan. Disebutkan bahwa Arca Totok Kerot pernah dipindah dari tempat asalnya dan diletakkan di Alun – Alun Kota Kediri. Hanya dalam waktu semalam, Arca Totok Kerot tidak betah akan tempat barunya. Arca Totok Kerot mulai menyusun rencana melarikan diri.   Pada tengah malam, tiba-tiba saja terkumpulah 7 ekor sapi dan 2 ekor gajah di alun alun Kesembilan hewan tersebut lalu menarik Totok Kerot menuju Dusun Bulupasar, tempat asal Totok  kerot. Karena  Totok Kerot  sangat berat . hanya beberapa meter saja, kesembilan hewan tersebut tidak kuat menarik Totok kerot dan meninggal karena kecapaian. Paginya, melihat  Totok Kerot telah berpindah tempat dan adanya hewan-hewan tak bernyawa disekitarnya, akhirnya pemerintah memutuskan untuk mengembalikan lagi ke tempat asalnya. Legenda ini dipercaya terjadi sekitar tahun 80’an, berselang beberapa tahun semenjak  Totok Kerot diketemukan. Dan  merupakan situs terbesar peninggalan Kerajaan Kediri yang pernah ditemukan di daerah itu.

Recources : http://id.wikipedia.or   n   http://thearoengbinangproject.com