Tarung Bebas Ala Pesantren
Hasrat Bertarung Yang Tak Lekang Oleh Waktu

Disamping dikenal sebagai Kota Tahu, Kediri juga dikenal lewat tarung bebasnya.  Pertarungan bebas ala Kediri yang sudah tersohor se-antero Jawa Timur, kerap disebut Pencak Dor, pertama kali dipopulerkan oleh KH Maksum Djauhari (Gus Maksum) di era 60-an. Tradisi tersebut berlanjut hingga kini, untuk meramaikan acara hajatan, atau peringatan hari besar tertentu.

Dikatakan sebagai pencak silat dor dikarenakan pertunjukan ini senantiasa diiringi oleh alat musik yang bernama jidor. Alat msik itu terus dibunyikan bertalu-talu guna memberikan semangat kepada para petarung untuk bisa menangkan diri. Pertandingan ini tidak seperti pertandingan silat kompetisi yang sering kita tonton di tv-tv, juga bukan pertandingan silat yang nantinya akan mendapatkan juara. Ini adalah pertandingan nyali dan kemampuan bela diri serta kekuatan orang.

Pertarungan ini bisa dikatakan benar-benar sebuah pertarungan yang ”liar”, sepanjang pertandingan digelar, adegan adu jotos, tendangan atau bantingan, baik yang terukur atau tidak, jadi suguhan puluhan ribu penonton. Karena bebas-bebas saja, alias tidak ada peraturan, kecuali setiap pemain mesti sportif, tidak memukul lawan yang sudah menyerah, atau memukul ke bagian belakang tubuh lawannya. Sementara para petarung boleh menggunakan model tarung secara bebas. Mulai model silat, petinju, tawuran jalanan, kungfu sampai model silat ala Wiro Sableng pun juga diperbolehkan asalkan mau menanggung resiko. Tidak jarang ada petarung yang hanya mengandalkan otot, tanpa teknik, namun asal main pukul. Sehingga arena pertarungan diubah menjadi tarung kampung yang brutal, tanpa mengindahkan teknik bela diri yang benar. Tentunya ini adalah tontonan menarik buat yang suka dengan tantangan n yang juga suka nonton tawuran hehehehehe….

Biasanya setelah dua orang siap bertanding di atas ring mereka akan bersalaman dahulu. Wasit akan memberikan aba-aba setelah kedua pemain siap untuk bertanding. Jika mundur karena musuhnya tidak sebanding, maka wasit akan mengumumkan untuk mengganti pemain yang mundur tersebut. Setelah benar-benar siap maka pertandingan segera bisa dimulai.

Seperti yang sudah aku omongin sebelumnya, dalam pertarungan ini tidak mencari pemenang, intinya siapa berani ya naik klo sudah menyerah tidak berani ya turun dan digantikan dengan yang lain, silih berganti sampai tidak ada yang mau naik genjot (ring) pertarungan. Yang lebih unik dan ndak kebayang adalah setelah selesai bertarung, petarung hanya akan akan memperoleh kupon makan. Lantas secara bersama-sama mereka makan. Bisa kebayangkan waktu di atas ring mereka bertarung habis – habisan dan berdarah – darah selanjutnya ketika sudah berada di bawah ring mereka akan menjadi teman seperti sediakala, manteb kan…….

Kalau rekan – rekan berminat mencoba atau hanya menonton pencak dor, datang saja ke kediri, Biasanya di laksanakan setahun sekali di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Ayo siapa berani bertarung di Pencak Dor?  MONGGO..!!!!, kalau saya sih…!!!! mending nonton saja hehehehehe…….

Image :  http://article.wn.com  n   http://www.azhie.net