Kota Kediri tidak bisa dilepaskan dari keberaadaan pabrik rokok terbesar di Indonesia, yakni perusahaan rokok Gudang Garam.  Orang yang berada di belakang dan pendirinya adalah Tjoa Ing Hwie. Saat ini siapa yang tidak mengenal rokok Gudang Garam, yang menguasai pangsa pasar rokok di Indonesia.

Tjoa Ing Hwie atau Surya Wonowijoyo yang dilahirkan di Fujian China, pada tahun 1926. Keluarganya menetap di Indonesia pada tahun 1929, yakni tepatnya di kota Sampang, Madura. Mereka hidup dalam kemiskinan, dan ayahnya hanya bekerja sebagai pedagang keliling. Saat menginjak usia remaja, ayah Ing Hwie meninggal dan ia harus bekerja demi menopang hidup keluarganya. Oleh karenanya, ia lantas merantau ke Kediri dan mencari pekerjaan di sana. Bekerjalah ia pada pamannya yg bernama Tjoa Kok Tjiang, di pabrik rokok Cap 93 yang ketika itu merupakan salah satu pabrik kretek besar di Jawa Timur.

Selama bekerja, Ing Hwie menimba pengalaman dan pengetahuan tentang seluk beluk perkretekan dan juga bagaimana membuat saus cengkeh yang baik. Ing Hwie bekerja selama kurang lebih lima tahun di pabrik pamannya. Tahun 1956, ia bercekcok dengan pamannya dan berhenti bekerja. Ia lantas menjadi penyalur tembakau dan cengkeh. Pengalamannya sebagai penyalur ini, terutama di masa-masa sulit, terbukti sanggup menghantarnya menuai kesuksesan di kemudian hari.

Pada bulan 26 Juli 1958, Ing Hwie mulai mendirikan pabriknya sendiri, yang berlokasi di dekat Kali Brantas. Guna mengawali usahanya itu, ia mengajak 50 orang bekas karyawan pamannya dan mendirikan pabrik rokok klobot dengan merek Ing hwie, Pabrik ini merupakan cikal bakal pabrik Gudang Garam yang masih beroperasi hingga saat ini. Secara bertahap usaha ini mulai berkembang.

Setelah dua tahun berjalan Ing Hwiemengganti nama perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam dan inilah awal dari segalanya. Ada cerita tersendiri dari pergantian logo dan nama perusahaan Ing Hwie ini. Pada suatu malam Tjoa Ing Hwie bermimpi tentang sebuah gudang tua penyimpanan garam. Di seberang gudang tersebut berdiri pabrik Cap 93 yang terlihat mentereng. Tjoa Ing Hwie pun menceritakan perihal mimpinya pada Sarman, seorang karyawan loyal-nya. Sarman pun coba menterjemahkan mimpi sang ”juragan” kedalam sebuah gambar ilustrasi. Berawal dari itu, Sarman menyarankan pada Tjoa Ing Hwie untuk menetapkan gambar-nya menjadi logo produk rokok, dengan merek dagang Gudang Garam.

Tahun 1984 kepemimpinan Gudang Garam beralih kepada anak kandungnya sendiri yaitu Rachman Halim dan pada tahun 1985, Ing Hwie meninggal dunia di Auckland. Tjoa Ing Hwie adalah contoh seorang taipan kediri yang sukses  berkat kerja keras dan kegigihanmnya.

Resource : http://www.inmystery.com/2010/09/filosofi-lambang-rokok-gudang-garam