Dari setiap wilayah di Indonesia pasti memiliki tradisi dan kepercayaan akan roh-roh dan kekuatan gaib. Kepercayaan tersebut tumbuh dari gejala-gejala alam yang terjadi di sekitarnya. Demikian juga yang terjadi di gunung Kelud,  sehingga ada budaya yang dianut oleh penduduk di sekita gunung melakukan Upacara larung sesaji. upacara ini selalu di laksanakan pada tanggal 23 Suro dan dipimpin juga oleh Juru Kunci Gunung Kelud

Ritual ini tidak lepas dari legenda Dewi Kilisuci. Berangkat dari legenda dan sesumbar Mahesa Sura tersebut, maka masyarakat sekitar daerah Kelud sengaja membuat tolak balaknya sendiri-sendiri, tujuannya meredakan kemarahan arwah Mahesa Sura yang setiap saat akan menghancurkan daerah sekitarnya bersama-sama dengan letusan dan lahar gunung kelud. Tiap-tiap desa telah mempunyai prosesi sendiri-sendiri yakni, ada menyiapkan sesaji, ada yang melaksanakan kenduri (selamatan) dan lain-lain, yang dilaksanakan pada setiap bulan sura.

Kawasan kawah Kelud sebelum dan sesudah eropsi 2007

Dahulu sebelum terjadi eropsi gunung Kelud terjadi ( tahun 2007) dan kawah gunung masih berupa danau maka acara larung ini dilakukan dengan menghanyutkan bermacam sesaji di danau kawah gunung namun, setelah terjadi eropsi gunung dan danau menjadi hilang dan tergantikan munculnya fenomena anak gunung di bekas areal kawah, maka pelaksanaan larung sesaji cukup berada di sekitar terowongan gunung kelud saja karena masih terlalu berbahaya jika mendekati areal kawah dan anak gunung kelud.

Terlepas dari kontroversi keberagaman beragama , dari tradisi-tradisi tersebut sebenarnya tersimpul sebuah filosofi, di mana kita sebagai manusia ciptaan Tuhan harus belajar menghormati alam ciptaan-Nya. Kita harus menyadari bahwa alam ini diciptakan dan disediakan bukan hanya untuk manusia saja, tetapi juga untuk makhluk ciptaan-Nya yang lain.

Kita dituntut untuk menghormati alam supaya keseimbangannya tetap terjaga, dan bencana yang terjadi nantinya bisa dengan baik ditanggulangi. Bukan berarti kita sebagai manusia bisa menghentikan aktivitas alami gunung berapi, namun setidaknya dengan menghormati alam dan menjaga keseimbangannya kita bisa menanggulangi kerusakan yang dibuat oleh aktivitasnya.

Alam memang tidak bisa ditebak, tetapi alam bisa berbicara kepada kita. Dengan pesan-pesan yang disampaikannya melalui kondisi dan keadaan lingkungan, ia memberitahu kita untuk selalu waspada. Untuk selalu menghormati alam dan yang paling utama adalah untuk selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan alam ini. Inilah wujud kearifan lokal yang harus tetap dipertahankan sebagai bangsa yang berbudaya.