Sri Aji Jayabaya adalah raja keempat di Panjalu. Masa pemerintahaannya adalah puncak kejayaan Kerajaan Kadiri karena berhasil mempersatukan kembali Panjalu dan Jenggala. Di masa pemerintahannya ekonomi berkembang pesat, demikian pula dengan perkembangan intelektual yang ditandai dengan munculnya sastrawan-sastrawan seperti Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menggubah Kakawin Bharatayudda. Bahkan kemudian Jayabaya  juga dikenal sebagai Nostradamus-nya orang Jawa karena orang mengingatnya sebagai raja sakti yang mengeluarkan ramalan tentang Nusantara jauh di masa depan. Karena itulah orang Jawa selalu mengingat Jangka Jayabaya atau Ramalan Jayabaya, walaupun sebenarnya tulisan-tulisan mengenai ramalan Jayabaya sebenarnya baru dituliskan pada tahun 1618M oleh Sunan Giri ke 3 dengan judul Kitab Musarar.

Kembali kepada petilasan Sri Aji Joyoboyo, petilasan ini terletak di Desa Menang Kecamatan Pagu, Sekitar 10 km, ± 15 menit dari Kota Kedir, letaknya kearah utara dari Simpang LIma Gumul.  Petilasan ini  dulunya merupakan tempat dimana raga Raja Jayabaya hilang (muksa) dan yang tertinggal hanyalah pakaiannya.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, penemuan petilasan ini berawal dari mimpi seorang penduduk yang bernama Warsodikromo.  Sebelum berdiri megah seperti sekarang, dulu, petilasan ini hanya berbentuk gundukan tanah biasa. Sampai suatu saat, Warsodikromo, warga Desa Menang, mimpi dan mendapat wisik. Bahwa di area gundukan tanah yang kini telah menjadi rawa dan semak belukar, pernah hidup seorang raja Kadiri yang bernama Joyoboyo. Ini terjadi pada tahun 1860.

Bagi masyarakat Jawa, mimpi seperti ini dianggap sebagai amanat. Sehingga, ketika mimpi ini diceritakan pada warga sekitar dan tokoh-tokoh spiritual, pencarian langsung dilakukan. Tak lama petilasan Joyoboyo-pun berhasil ditemukan. Keagungan nama Joyoboyo yang sudah didengar turun temurun,  mengundang niat warga untuk merawat dan memperbaiki. Dan seiring perbaikan petilasan yang jatuh bangun, kawasan ini mulai ramai dikunjungi peziarah. Salah satu yang datang adalah keluarga Hondodento dari Yogyakarta.

Sebagai bentuk penghormatan pada Sang Raja, keluarga Hondodento turun tangan memugar petilasan yang memiliki luas 1.650 meter persegi ini. Bahu membahu bersama masyarakat sekitar, pemugaran dimulai pada tanggal 22 Februari 1976, selesai 17 April 1976, ditandai dengan penyerahan hasil pemugaran pada Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri.

resource : http://baltyra.com/2012/02/15/oleh-oleh-dari-masa-lalu-2-petilasan-sri-aji-jayabaya/ n http://geloranusantaraku.blogspot.com/2012/06/jejak-bisu-sri-aji-jayabaya.html